CLS NEWS COM. Bersama kita Bisa bangkit membangun luwu utata ‘ atatan ini menceritakan tentang perjalanan mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Luwu Utara, Suaib Mansur (SM) selama Tiga hari, ke suatu daerah terpencil di dataran tinggi ‘Tokalekaju’ yang terletak di antara bentangan pegunungan Quartes dan Verbek.

Sebuah daerah berpenghuni sekitar 3.200 jiwa dengan luas 1.565,66 km² merupakan daerah pelaksanaan Program Strategis Segitiga Emas karena miliki kekayaan potensi alam yang melimpah serta menyimpan warisan kemuliaan peradaban leluhur dari masa ke masa.

Daerah yang tepat di bagian tengah Pulau Sulawesi itu adalah Kecamatan Rampi yang miliki Enam desa defenitif dan masuk dalam wilayah Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dulunya, Kecamatan Rampi bersama Rongkong dan Kecamstan Seko yang berada di wilayah pegunungan sebagai daerah terisolir dan tertinggal. Namun dalam Tiga tahun terakhir, Rampi mulai bangkit dari segi pembagunan, utamanya pada infrastuktur jalan.

Lantaran itulah, Suaib Mansur, berjuluk Sang Teknokrat ini, haruskan dirinya terbang ke Rampi, gunakan pesawat kargo dari bandara terbaik di Indonesia Kategori Bandara Perintis Kelas III, Bandara Andi Djemma Masamba dan mendarat di landasan pacu sepanjang 1.200 kilometer dengan lebar 30 kilometer di Bandara Rampi di Desa Onondoa.

“Rencananya sekitar tiga hari. Agendanya silahturahmi ke keluarga yang tersebar di beberapa desa. Susana Rampi ini, beri arti tersendiri. Serasa datang di kampung kelahiran. Bawa kita pada Lutra tempo dulu. Selain itu, kita juga tinjau pengerjaan proyek dari Dinas PUPR. Semua harus berjalan baik dan selesai sesuai target,” kata Ssng Teknokrat saat berada di terminal Bandara Rampi baru-baru ini.

Menurut Wisudawan Terbaik Fakultas Tehnik Universitas Hasanudin (Unhas) ini dirinya sedang dalam proses pengunduran diri berstatus ASN, yang menjabat Kadis PUPR Lutra. Dan terkait itu, Suaib mengaku berharap tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan selaku pejabat semua terselesaikan secara baik.

Putra Baebunta Selatan ini mengatakan setelah lulus meraih Magister (S2) Unhas, langsung terangkat menjadi ASN yang sukses dalam karirnya hingga dipercaya mengembang sejumlah jabatan eselon II dengan prinsip, menjaga kejujuran dan komitmen terhadap diri dan pada pekerjaan.

“Bekerja itu kejar hasil maksimal. Untuk itu butuh ketekunan serta transparansi. Raih target kerja dengan kejujuran dan tidak boleh ada fee proyek kalau mau hasilnya berkualitas. Begitupun dengan proyek di Rampii ini, seperti program Pamsimas dan proyek infrastruktur jalan harus tuntas dengan hasil berkualitas,” ujar pria bersahaja kelahiran Lara di Beebunta Selatan ini.

Suaib menuturkan pihaknya berupaya mempercepat pembangunan infrastrktur jalan, utamanya pembukaan akses jalan poros Masamba-Rampi sepanjang 85 kilometer yang digenjot pengerjaannya agar selesai pada akhir tahun ini.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, ruas jalan penghubung dari Desa Pincara, Masamba ke Desa Lebongi Rampi sejauh 82 kilometer. hanya bisa ditempuh selama 2-3 hari dengan berjalan kaki karena tertutupnya akses jalan.

Mulai 2011, Pemkab Lutra laksanakan pembukaan akses jalan penghubung Masamba-Rampi ini mengunakan sumber anggaran dari APBD Lutra dan Pemprov Sulsel. Serta pada 2012 lalu, pengerjaan ruas jalan sepanjang 15 kilometer habiskan dana shering pembangunan insfrastruktur jalan daerah terpencil sebesar Rp 2,5 Miliar.

Begitupun pada 2013, kucuran dana APBD sekitar Rp 3 miliar digunakan melanjutkan pengerjaan jalan sepanjang 15 kilometer. Selanjutnya Pemkab Lutra setiap tahunnya tetap laksanakan pengerjaan ruas jalan yang karakteristik tanahnya, lembek berpasir dan mudah longsor,

Hingga 2017 akses jalan darat penghubung Masamba-Rampi ini masih dalam kondisi proses pembukaan jalur baru, masih sebatas setapak sempit berlubang hanya dapat dilalui menggunakan transportasi ojek motor bertarif Rp 500 ribu dengan waktu tempuh sekitar 10 jam.

Pembangunan infrastrktur jalan di wilayah terisolir di Kecamatan Rampi, tak hanya melakukan pembukaan jalan penghubung Masamba-Rampi, namun juga menyentuh pada pengerjaan ruas jalan antar desa, diantaranya ruas jalan dari Dusun Tolada, Desa Leboni, ke Dusun Lekko, di Desa Leboni sepanjang Enam kilometer gunakan anggaran APBD Lutra 2017.

Menurut, SM, calon wakil bupati terfavorit masyarakat Lutra ini bahwa bukan hal mudah mengerjakan pembukaan akses jalan untuk wilayah terpencil bila tanpa dukungan dari masyarakat setempat. Butuh perjuangan dan usaha yang konsisten guna memastikan pembukaan jalan bisa terus berlanjut, karena merupakan kebutuhan skala prioritas.

Pihaknya tak menampik, lanjut Suaib, kerap temui kendala pada struktur tanah yang rapuh. Bahkan sempat berpolemik di tengah masyarakat terkait tudingan Dua alat berat milik Dinas PUPR Lutra diduga berhenti beroperasi dan pengerjaan jalan dikerjakan alat berat milik Kontraktor, HD dari PT Sinar Rampi Pratama karena faktor adanya proyek pengerjakan terminal dan Gudang Kargo di Bandara kelas III Rampi yang sedang dikerjakan kontraktor tersebut.

“Tantangan dan rintangan pasti ada ditemui saat membuka akses jalan Masamba-Rampi. Tapi tentu kita tidak berhenti untuk mencari solusi agar pengerjaannya tetap berlanjut dan bisa tuntas sesuai target. Tapi itu semua patut disyukuri karena saat ini pengerjaan jalan sudah terbuka.dan masyarakat sudah rasakan manfaatnya. Nah, tugas kita sekarang adalah bagaimana memelihara jalan tersebut agar tetap bisa dilalui,” pungkasnya.

Selain itu Sang Teknokrat menjelaskan bentuk keseriusan Bupati Lutra IDP untuk membangkitkan Rampi dan Seko demi merealisasikan program strategis Segitiga Emas yang akan iringi kemajukan Kabupaten Luwu Utara di masa mendatang.

Kolaborasi dan sinergitas antara Pemkab Luwu Utara dengan Pemprov Sulsel beserta TNI Kodam XIV Hasanuddin saat ini, sangat membantu kesuksesan program strategis tersebut sebagai rantai pasok pangan dalam menopang pembangunan Ibukota baru Negara di Kalimantan.

Ditambahkan Suaib Mansur, ruas jalan Seko-Rampi menghubungkan Tiga Provinsi yaitu, Sulsel, Sulbar dan Sulteng. Sedang jarak tempuh dari Kecamatan Seko ke wilayah Mamuju Sulbar sekitar 50 kilometer sementara Kecamatan Rampi ke wilayah Palu Sulteng sekitar 200 kilometer.

“Olehnya itu, dengan baiknya infrastruktur jalan penghubung di dua kecamatan tersebut, Kedepan Luwu Utara, siap menjadi kabupaten sentral pemasok kebutuhan pangan nasional. Berdasar hasil kolaborasi dengan Pemprov dan TNI pada tahun ini mulai dilaksanakan pengerjaan sejumlah proyek pembangunan infrastuktur jalan di Rampi,” jelasnya.

Untuk diketahui, sejumlah proyek pembangunan infrastuktur jalan di Kecamatan Rampi yang sedang dikerjakannya diantaranya Pembangunan Jalan Seko-Rampi Batas Provinsi Sulteng bersumber dari APBN sebesar Rp 28.482.750.000,00.

Pengerjaan ruas jalan Tedeboe – Lore sepanjang 34,7 kilometer dari Desa Tedeboe Kecamatan Rampi. Sementara untuk pegawasan teknis pembangunan jalan Samaenre – Bulutana dan Desa Onondoa Rampi, Luwu Utara, Sulsel ke perbatasan Sulteng dianggarkan dari APBN sebesar Rp 2.3 Miliar”…..

[ BERSAMBUNG KE PART 2 ](mus/cls)

editor -Dian rahmana putri.H