OPINI:

Dukkha, Takdir, dan Karakter Bangsa
Perundungan, Pembullyan, Adalah Karakter Negatif

JAKARTA, – Cls News.id – Karakter bangsa Indonesia haruslah bermoral, jika ingin bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermoral. Ketika Indonesia mampu menjadi bangsa yang bermoral, maka hampir pasti Indonesia akan disegani oleh bangsa-bangsa di dunia.Jakarta 07 April 2025.

Dalam beberapa kesempatan beberapa pejabat tinggi negara kita dengan berani menyatakan mendukung Palestina, mengutuk penjajahan yang ada di Palestina, mengajak negara-negara lain untuk membela dan mendukung kemerdekaan Palestina, disampaikan di beberapa forum yang dihadiri pimpinan beberapa bangsa di dunia.

Beragam respon yang ada, namun bagi penulis pribadi pejabat tinggi negara kita telah berani menunjukkan sikap politik sekaligus betapa bangsa kita Indonesia adalah bangsa yang bermoral sejalan dengan pembukaan UUD 45, “bahwa penajajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan..”.

Membangun karakter bangsa yang bermoral tentu tak mudah karena akan menghadapi banyak kendala serta problematika yang kompleks, contohnya bagaimana bangsa ini bisa mengurangi problematika korupsi dari hulu ke hilir.

Pasang Iklan Mandiri
Bagi penulis pribadi, semua kalangan harus berbenah terkati korupsi ini. Ketika menuntut pejabat-pejabat tidak melakukan korupsi, maka kalangan menengah serta rakyat biasa pun juga alangkah baiknya juga tidak melakukan korupsi. Paling sederhana adalah korupsi waktu, waktu yang seharusnya dipakai bekerja atau beraktivitas malah disalahgunakan.

Menurut Lawrence Kohlberg, ada empat hal yang secara psikologis memengaruhi perilaku moral. Pertama, sensivitas moral atau lebih mudah disebut kepekaan moral. Sebagai contoh perilaku merundung atau membully.

Bagi sebagian orang menganggap biasa saja, namun bagi orang tertentu itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Jika mencaci, menghina, dan memaki orang dianggap biasa saja, maka berhati-hatilah, bisa jadi kepekaan moral sedang bermasalah. Sama seperti ketika ada yang bertanya “kapan nikah?” atau “kapan punya momongan?” tanpa memerhatikan kondisi lawan bicara, atau menanyakannya di tempat umum, ada yang salah dengan kepekaan moral jika kita menganggap bertanya semacam itu adalah biasa.

Kedua, penilaian moral. Dalam kehidupan kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang begitu banyak, dan sering pilihannya bukan antara baik dan buruk saja. Kadang pilihannya adalah baik dan lebih baik, rusak atau lebih rusak, dan mungkin banyak opsi atau pilihan-pilihan lain.

Sama seperti ada yang memutuskan untuk peduli Palestina atau peduli pada Masyarakat dalam negeri yang tertimpa bencana, semua tergantung daripada penilaian moral kita masing-masing. Asal jangan saja berhenti untuk peduli.

Ketiga, motivasi moral. Yaitu dorongan dari dalam diri sendiri untuk berbuat baik. Ada yang ingin terkenal, ingin dapat pahala, ingin dipuji, ingin balasan, ingin harta, ingin disuka, dan berbagai macam dorongan lain dari dalam diri. Apapun itu, apapun niatnya, bagi penulis pribadi, yang penting dorongan-dorongan semacam itu menghasilkan kebaikan yang membantu orang lain.

Keempat, implementasi moral. Merupakan gabungan dari sensitivitas moral, penilaian moral, motivasi moral, yang kemudian dikerjakan oleh anggota tubuh dalam wujud tindakan nyata, sehingga keempat hal tersebutlah yang memengaruhi perilaku moral kita. Membangun bangsa yang berkarakter dan bermoral, tentu saja dimulai dengan tuntasnya perilaku moral setiap individu.

Karakter bangsa harus menjadi perhatian kita bersama, meski mungkin kita bukan seorang pendidik atau orang yang peduli dengan Pendidikan. Sebab, membangun generasi adalah tugas kita bersama, baik itu generasi biologis maupun ideologis. Membangun karakter yang baik bisa memakai pendekatan penderitaan, seperti apakah itu? Dalam ajaran Buddhisme, ada yang namanya empat kebenaran mulia yang kemudian menjadi nyawa ajaran Buddha.

Meski anda bukan beragama Buddha, paling tidak bisa menjadi inspirasi untuk mengubah karakter atau membangun karakter positif. Nyawa ajaran Buddha dalam empat kebenaran mulia, yang pertama adalah bahwa hidup punya karakter dukkha.

Dukkha itu artinya penderitaan, hakikat hidup manusia penuh penderitaan. Ada jenis penderitaan biasa atau dukkha-dukkha seperti merasa gerah dengan cuaca, merasa kedinginan dengan cuaca, merasa gatal ketika digigit nyamuk, mau pulang kerja namun jalanan macet, dan seterusnya. Penderitaan biasa semacam ini masih mudah diatasi.

Selanjutnya jenis penderitaan karena perubahan atau viparinama-dukkha, perubahan-perubahan fisik karena bertambahnya usia termasuk jenis penderitaan ini. Hidup yang terus bergelombang dan berkembang dari masa lalu ke masa kini, dari masa kini ke masa depan, pasti akan terjadi banyak perubahan.

Seperti kita hari ini yang merindukan masa kecil yang begitu menyenangkan, bebas bermain ke sana kemari, semua biaya hidup diusahakan dan ditanggung oleh orang tua, pasti kita merindukannya. Semakin bertambah usia semakin bertambah pula tanggung jawab, kita yang sekarang masuk usia dewasa baru menyadari bahwa tangung jawab juga semakin besar. Maka inilah yang dimaksud dengan penderitaan karena perubahan atau viparinama-dukkha.

Jenis penderitaan selanjutnya adalah penderitaan karena memiliki badan jasmaniah atau sankhara-dukkha. Manusia yang memiliki badan jasmani tentu akan menghadapi konsekuensi, seperti badan jasmani yang terus berubah seiring bertambahnya umur, sakit, sehat, tua, dan mati adalah konsekuensi logis karena memiliki badan jasmani. Manusia kadang senang, kadang sedih, kadang stres dan depresi, itulah penderitaan manusia menurut ajaran Buddha.

Meski anda bukan beragama Buddha, anda tetap bisa memetik Pelajaran dari konsep ajarannya untuk kebaikan. Di dalam Islam, salah satu rukun iman adalah mengimani takdir yang baik dan takdir yang buruk. Yang mencerminkan bahwa kehidupan yang kita lalui tidak selamanya baik dan tidak pula selamanya buruk.

Tidak selamanya Berjaya dan tidak selamanya kalah, berbagai kondisi akan dipergilirkan. Maka dalam Islam seseorang yang Berjaya atau terpuruk dalam kehidupannya bukanlah ukuran baiknya keislamannya, akan tetapi bagaimana sikapnya dalam menghadapi takdir baik dan takdir buruk apakah tetap dekat kepada Allah SWT atau malah berpaling?

Bangunlah karakter kita sebaik mungkin, sebagai manusia Indonesia yang bertanggung jawab terhadap sikap dan perbuatan kita masing-masing. Konsep penderitaan atau dukkha dalam ajaran Buddhisme semoga membantu kita memperbaiki karakter dengan memahami hidup adalah penderitaan.

Konsep takdir dalam Islam semoga membantu kita untuk bersikap sebaik mungkin, tetap dekat kepada Allah SWT dalam menghadapi takdir baik dan takdir buruk yang selalu dipergilirkan.

(www.freepik.com/Redaksi Cls News.id )
Dibagikan
HamzaH HamzaH
Mohamad Khaidir
Penulis
Sesmawati
Editor